AKU DAN LANGIT.
![]() |
| Kredit Derrick Pitts, Hon.D |
Prigen, Pukul 22:30 WIB 12 Agustus 2026.
Aku bersama kedua sahabatku, Kak Wagyu dan Kak Piti. Kami bertiga berangkat menuju sebuah cafetaria di wilayah Prigen.
Ratusan meteor dari rasi bintang perseus akan membombardir bumi pada tengah malam.
Tapi tenang, bumi dengan pasukan berlapis-lapisnya akan melindungi umat manusia yang kesekian kalinya.
Sehingga yang tersisa adalah jejak-jejak mahakarya Sang Pencipta.
Harusnya dimomen ini aku berangkat mendaki sebuah gunung, disanalah tempat paling ideal untuk menyaksikan serpihan-serpihan semesta.
Dipuncak gunung bebas akan polusi cahaya, langit malam akan terasa gelap total, tak ada tangisan manusia patah hati, apalagi sebuah bangunan yang digadang-gadang akan menjadi sebuah koperasi.
Yasudahlah, mau bagaimana lagi?
Yang sudah terjadi, biarlah terjadi.
Yang sudah berlalu, biarlah berlalu.
Dengan bermodalkan sebuah gear fotografi seadanya, menggunakan kamera sony A6400 dengan lensa kit 16-50MM beserta tripod inbex, ingin mengabadikan momen meteor jatuh ini.
Jujur saja, dengan polusi cahaya sebesar 5.5 bortle, aku tidak berharap dapat menyaksikan keindahan mahakarya Sang Pencipta.
Dilain sisi aku sendiri tidak mahir menggunakan kamera, jadi aku juga tidak berharap nantinya jika momen ini diabadikan dengan sempurna.
Ini bukan pesimis.
Tidak berharap bukan berarti menyerah, hanya saja memilih untuk tidak menggantungkan ketenangan pada sesuatu yang belum pasti.
Karena terakhir kalinya berharap kepada manusia, berakhir dengan kecewa.
Dentang jam berbunyi, yang tak bisa kukendalikan, kubiarkan Tuhan yang menentukan.
Detik demi detik terlewati.
Menit demi menit berlalu.
Jam demi jam berganti.
Dan aku, perlahan belajar menerima.
Mungkin bukan hari ini,
Tapi suatu saat nanti, aku akan kembali dengan versiku yang lebih baik lagi,
Namun dengan tempat dan meteor yang berbeda.

Gabung dalam percakapan